Bank Indonesia mencatat geliat perbankan di Jawa Timur akan terus
mengalami peningkatan. Hal itu terbukti dari peningkatan total aset,
kredit hingga penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank umum yang cukup
naik di tahun 2012 lalu yakni naik sekitar 16,39%.
Hal yang
lebih menggairahkan lagi, rasio kredit non lancar atau Non Performance
Loan (NPL) bisa ditekan pada level 2,6%, sehingga perbankan umum,
syariah bahkan BPR masih memiliki optimisme yang cukup tinggi untuk
berbisnis di Jatim.
Besarnya antusias perbankan itu juga
tercermin dari jumlah bank umum di wilayah Jawa Timur yang hingga akhir
tahun 2012 tercatat sebanyak 80 bank dengan jumlah jaringan kantor
sebanyak 3.468 kantor. Total aset pun mengalami pertumbuhan sebesar 17,3
% dibandingkan tahun 2011 lalu, dengan total aset mencapai Rp 353,59
triliun.
"Tabungan, giro dan deposito atau DPK pun semakin
meningkat sampai akhir tahun 2012, DPK bank umum di Jatim tercatat Rp
289,08 triliun atau tumbuh sebesar 16,39 %," ungkap Soekowardojo,
Direktur Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV di Surabaya,
Rabu (30/1/2013).
Dimana sumbangan DPK terbesar berasal dari
simpanan tabungan yang mencapai 21,91% dengan nominal sebesar Rp 134,21
triliun. Sedangkan giro dan deposito menyumbang 20,71% dan 8,50%.
Tingginya simpanan tabungan seiring dengan upaya perbankan untuk
memperoleh dana murah serta pilihan masyarakat untuk menyimpan dana
dalam bentuk simpanan yang sewaktu-waktu dapat ditarik.
Penyaluran
kredit juga tak kalah signifikannya, dimana total penyaluran kredit
semua bank di Jatim mencapai Rp 239,48 triliun. Besarnya pertumbuhan
kredit tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama
tahun sebelumnya (Desember 2011) yang tercatat sebesar 22,18%.
"Penyaluran
kredit bank umum masih didominasi oleh kredit sektor produktif yakni
untuk modal kerja dengan proporsi sebesar 58,26%. Baru kemudian untuk
kredit konsumsi dan investasi dengan proporsi kredit masing-masing
sebesar 27,66% dan 14,08%," jelas Soeko.
Membaiknya fungsi
intermediasi perbankan Jawa Timur juga dapat dilihat dari kenaikan Loan
to Deposit Ratio (LDR) dari sebesar 76,35% pada bulan Desember 2011
menjadi sebesar 82,84% pada bulan Desember 2012. Hal itu didukung oleh
rendahnya risiko kredit yang tercermin dari cukup rendahnya rasio kredit
non lancar atau Non Performance Loan (NPL) pada level 2,6%.
Peran
perbankan di Jatim dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM) yang tercermin dari penyaluran Kredit UMKM hingga
Desember 2012 secara umum juga menunjukkan peningkatan. Tercatat
penyaluran kredit UMKM oleh bank umum di Jawa Timur mencapai Rp 68,53
triliun, atau tumbuh sebesar 9,93% dibandingkan tahun 2011. Angka NPL
kredit UMKM yang disalurkan dapat terjaga di kisaran 3,63%.
"Adapun
proporsi penyaluran Kredit UMKM terbesar adalah pada Bank Pemerintah
dengan prosentase mencapai 54,89%, disusul kemudian dengan bank swasta
dan bank asing dengan prosentase masing-masing sebesar 43,53% dan
1,58%," tandasnya.
Soeko memprediksi, pertummbuhan kredit
perbankan masih akan tumbuh dengan cukup baik. Dengan pertumbuhan
ekonomi Jatim sampai 7,3%. maka sektor perbankan pun akan tumbuh sekitar
23% atau lebih.